Selasa, 17 Februari 2009

PARTAI CARI MUKA

PARTAI CARI MUKA

By elha 12.02.2009

Partai pilihan rakyat…Caleg peduli rakyat…Pilih No. 53 yang terbukti anti korupsi dan tanggap bencana…contreng No. 62, PAPA-nya ARTIS … Partai Main Mata berjuang bersama rakyat (kapan Pak??)…bla..bla...hehehe Mana ya partai & caleg jual program utk rakyat....???

---ooOoo---

Menjelang pemilu 9 April 2009, partai politik (parpol) dan calon anggota legislatif (caleg) saling mengumbar klaim. Mereka laksana pedagang kaki lima yang sedang mengobral dagangannya. “sepuluh ribu tiga……sepuluh ribu tiga…” “sayang anak…sayang anak”

Parpol satu merasa lebih baik dari yang lain. Caleg yang satu ‘katanya’ lebih peduli ketimbang caleg lainnya. Mereka mengklaim mewakili rakyat. Selalu mengatas namakan rakyat. Menggambarkan seolah-olah rakyat sepenuh hati berada dalam barisan mereka. Benarkah?? Mari kita telaah bersama.

Pendiri parpol yang dilupakan (?)

Ketika berkunjung ke Kota Tangerang, aku bertemu dengan seorang Ibu tua. Umi, demikian Ibu tua itu biasa dipanggil. Dia bercerita kalau anak tertuanya adalah salah satu pendiri parpol berbasis agama di daerahnya. Konon, sampai saat ini, alamat rumahnya masih tercantum di DPP sebagai rujukan informasi parpol tersebut di wilayah Tangerang. Dan memang, aku melihat banyak atribut parpol berbasis agama di dalam rumahnya, termasuk arsip dan pernik-pernik lainnya.

Pernah satu ketika, entah karena kesalahan administrative dan atau karena salah prosedur atau alasan lainnya, si anak berurusan dengan pihak berwajib. Namun hal itu tidak membuatnya jera dalam membesarkan partai yang di’bidaninya’ di kampung halaman itu. Teman seperjuangannya ada yang sudah menikmati ‘empuknya’ kursi legislatif. Namun dia dan keluarganya tetap bekerja untuk partainya.

Masalah baru muncul ketika dia memperjuangkan nasib kaum buruh yang berakibat pada ‘PHK’. Saat itu konon karib koleganya seperti sembunyi. Bahkan sang ‘Legislatif’ seperti tidak pernah mengenalnya. Ekonomi keluarga yang sebelumnya memang kekurangan menjadi semakin terbenam.

“Umi sih bukan pengen di Tanya…” kata ibu tua tersebut nelangsa, mengomentari ulah ‘sang legislatif’

“Tapi dulu dia kan sering tidur-tiduran di sini, sama-sama untuk partai…Sekarang mah udah enak. Lupa kali ama umi mah” tambahnya dengan logat Tangerang-nya yang kental.

—mhn maaf kalau redaksi tidak persis sama dengan yang diucapkan. Tapi Insya Allah maknanya sudah sesuai--

Peristiwa diatas adalah kisah nyata. Realita yang ada. Apakah ini hanya satu-satunya kisah..? wallahu’alam.

---ooOoo---

Semua parpol sepakat bahwa kesejahteraan rakyat adalah tujuan utama perjuangannya (HU Pelita, Kamis, 12 februari 2009, http://www.hupelita.com/). Setiap parpol mengklaim bahwa mereka adalah pengabdi rakyat yang berjuang untuk rakyat. Bahkan mereka tak segan untuk mengatakan sebagai ‘pelayan’ rakyat.

Tafsir benderang atas semua pernyataan tersebut adalah bahwa rakyat pemilik sejati demokrasi. Karenanya rakyat pula yang menjadi pemegang saham terbesar parpol. Setoran utama parpol terhadap rakyat adalah kesejahteraan. Dan ini diakui secara riel oleh para petinggi parpokl tersebut, seperti dikutip HU Pelita OnLine http://www.hupelita.com

Namun menelaah peristiwa diatas, kita perlu menganalisa kembali pernyataan-pernyataan pengurus parpol (politisi) mengenai makna kesejahteraan rakyat. Dalam UU No. 6 tahun 1974 Kesejahteraan didefinisikan adalah kemampuan individu (rakyat) dalam memiliki faktor-faktor material. Artinya rakyat memiliki daya beli untuk mendapatkan sesuatu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Atau dalam bahasa yang lebih sederhana sejahtera adalah keluar dari garis kemiskinan.

Kemiskinan itu sendiri memiliki kriteria sebagai berikut (BPS, 2006) :

1. Kategori sangat miskin yakni yang mempunyai penghasilan Rp120 ribu/bulan, intake energi makan sehari 1900 K kal,

2. Miskin yang mempunyai penghasilan 150 ribu/bulan, intake energi makan sehari 2100 K kal, dan

3. Hampir miskin yang mempunyai penghasilan 175 ribu/bulan, intake energi makan sehari 2300 K kal

Michael P. Todaro dalam Economic Development in the Third World (1989) menyatakan, "biasanya gejala kemiskinan absolut pada suatu lokasi dapat diukur dari proporsi penduduk yang hidup di bawah tingkat pendapatan minimum yang telah ditentukan (adequate standards of living)".

à adequate standards of living dapat diasumsikan dengan Upah Minimum Regional/Provinsi/Kabupaten, yaitu antara Rp. 650 ribu – Rp. 1 juta/bulan.

Artinya masyarakat dengan kategori tersebut adalah lahan garapan parpol. Ladang perjuangan anggota legislative, pemerintah dan para caleg. Jika semua itu dijalankan dengan baik dan tepat sasaran, peristiwa diatas, dimana pendiri parpol berbasis agama seolah ternafikan, tidak akan pernah terjadi.

Mungkin peristiwa di atas hanya segelintir kisah dibandingkan dengan keberhasilan parpol membangun fondasi ekonomi dan politik bangsa ini. Atau mungkin itu hanya ulah ‘oknum’ elite politik yang mencoba mengaburkan keberhasilan parpol, legislative dan pemerintah.

‘Oknum’ digambarkan oleh Joel Hellman (World Politics, 1998) sbb : Mereka yang berhasil merebut kekuasaan demokratis dari rezim otoriter dan selanjutnya membelokkan agenda demokratisasi. Mereka adalah pemenang di awal reformasi, di tengah mereka memutar haluan. Mereka berhasil membangun legitimasi atas kekuasaannya, selanjutnya mereka berkhianat. Di awal reformasi, mereka tampil sebagai pembela demokrasi. Setelah rezim otoriter tumbang, mereka menghalangi konsolidasi demokrasi.

Mereka yang dimaksud adalah para oknum yang dengan sengaja atau karena ketidak tahuannya mengubah dan membelokkan arah reformasi. Yang mengaburkan makna demokrasi, sehingga mengorbankan rakyat dan kesejahteraan rakyat. Mereka mengotori perjuangan para partai politik dan menggerus keberhasilan pembangungan ekonomi, politik dan budaya yang telah disumbangkan oleh pemerintah.

Oknum tersebut adalah para Partai Cari Muka. Parpol yang hanya muncul menjelang pemilu. Yang tidur ketika rakyat membutuhkan. Yang tak menoleh ketika rakyat memanggil. Yang mencari keuntungan di parlemen. Yang mencoba membocorkan anggaran pemerintah. Yang men-catut dana untuk rakyat.

Mereka, para oknum tersebut, layak mendapat ‘bintang’ sebagai pengkhianat rakyat. Mereka wajib dikeluarkan dari struktur legislative dan di diskualifikasi dari daftar caleg (DCT). Karena sejatinya mereka adalah debu yang mengotori kursi pembangunan pemerintah. Yang menjadi benalu bagi pembangunan politik dan demokrasi parpol.

Selamat menunaikan pesta demokrasi.

Pilihlah Parpol dan Caleg yang benar-benar terbukti membela kebenaran. Yang berjuang demi keadilan dan kerakyatan. Hati-hati dengan caleg yang hanya menebar janji, memberikan imbalan materi (uang) untuk meraup suara dan mereka yang alergi melakukan kontrak politik formal.

Bravo Indonesia. Salam Demokrasi

elha 12022009




Baca Selengkapnya......

Senin, 09 Februari 2009

Valentine's Day ….CINTA SEJATI ATAU KORBAN BISNIS

Valentine's Day ….CINTA SEJATI ATAU hanya KORBAN BISNIS
by elha 12.02.2007 (dari berbagai sumber)

Setangkai bunga merah ia letakkan di atas dadanya, seraya senyum dia ber-ujar, “Happy Valentine……”
Loch kok bunga merah….iya donk. Wong nuansa Valentine aja Merah Muda. Pink kata orang Jawa….

Sebenarnya APA SEEH VALENDTINE’S DAY itu…..???
Banyak versi dengan beragam pernik, sehingga sulit mengatakan yang satu lebih benar dari yang lain….

Dr. Rebecca Brown dalam The International Best Seller, cetakan ke 501 tahun 2006, menulis “Bebas dari Cengkeraman Setan oleh Dr.Rebecca Brown”

Isinya :
Bahwa sesungguhnya di Amerika ada 17 hari raya dan salah satunya adalah Valentine Day atau kaum remaja lebih kenal dengan istilah Hari Kasih Sayang sebagai ungkapan rasa cinta...

Valentine Day dikembangkan oleh pemimpin Gereje Setan di Amerika (Lucifer = iblis = setan) dengan sasaran utama kaum remaja di seluruh dunia (berarti semua remaja dari berbagai agama didunia)

yang mana mereka tidak mempunyai gedung gereja menetap, melainkan mereka selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya karena Gereja ini sudah dilarang oleh pemerintah federal karena ajarannya yang sangat menyesatkan namun berkembang sangat pesat... Para pengikut gereja setan menyebutkan dirinya dengan The Brother Hood (untuk kaum pria) dan Sister and Life (untuk kaum wanita)....

Kok Sereem ya….emang gak ada kisah yang lain….Easy. Ada kok.

Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah kisah Pendeta St.Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St.Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya
Claudius II melihat St.Valentine mengajak manusia kepada agama nashrani lalu dia memerintahkan untuk menangkapnya.

Namun agama Nasrani sendiri tidak pernah menyebut Valentine’s day (Hari valentine) sebagai Hari Raya agama mereka.


Lalu APA SEEH VALENTINE ITU
Dalam era modern Valetine Days sudah beralih dari issue Gereja centris ke issue drama percintaan dan kasih sayang anak muda dan remaja yang keranjingan cinta. Makanya nuansanya pun diubah. Tidak lagi klasik melainkan serba PINK. Dengan symbol hati (love) berwarna merah atau sayap burung… for : When every foul cometh ther to choose his mate

Di Amerika sendiri Hari Valentine baru dikenal pada tahun pertengahan abad 19, ketika mereka mengimpornya dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi Amerika. Nah, sebagai negara pedagang, Amerika mulai mencetak kartu ucapan, sebagai bentuk ungkapan cinta. Maklum pedagang….semua mulai dibisnis-in.

Di Indonesia, Hari valentine selalu dikaitkan dengan karakter ‘khas anak muda/remaja Indonesia’ yang cenderung konsumtif. Budaya ini cenderung populer karena melibatkan banyak pihak. Terutama anak muda dan remaja yang masih mencari identitas diri dan kalangan indistri yang melihat mereka sebagai pasar potensial.
 So, lihatlah di mall, swalayan, pertokoan, hotel, setasiun tv, radio, dll….isinya kotak coklat, boneka, perhiasan, berbie……

The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

KESIMPULAN
Dari uraian diatas, bolehlah kita menyimpulkan bahwa Valentine’s Day bukanlah hari raya, baik bagi kalangan Islam ataupun kaum Nasrani.

Lalu mengapa jadi demikian popular, wah dan heboohhh nian. Tak lain dan tak bukan karena kepentingan bisnis. Coba liat, pihak mana yang paling giat mem-promosikan Valentine’s Day kalau bukan para bisnisman. Atau setidaknya sayap-sayap bisnis mereka seperti mall-mall, swalayan , stasiun tv, radio, dll.

So, masihkah kita ingin menjadi OBYEK DARI BISNIS ORANG LAIN….menjadi Sandera yang di ‘SERBU’ oleh barang-barang konsumtif ala Valentine’s Day….

Semua berpulang pada hati nurani masing-masing.

Selanjutnya : Valentine’s Days dari sudut pandang Islam.

Slm ukhuwah – slm Cinta
elha


Referensi
1. Dr. Rebecca Brown, The International Best Seller, cetakan ke 501 tahun 2006
2. Wikipedia
3. Artikel lain tentang Valentine’s Day


Baca Selengkapnya......

Senin, 03 November 2008

SELINGKUH…JAKARTA UNDERCOVER

SELINGKUH…JAKARTA UNDERCOVER..(by elha 15.11.2006)

Ubadah ibnush Shamit ra mengatakan bahwa Nabi SAW merasa sedih dan wajahnya tampak kusam ketika beliau menerima wahyu tentang hukuman zina. Pada suatu hari beliau menerima wahyu, lalu tampak seperti itu. Setelah beliau ceria beliau bersabda, “Laksanakan ajaranku! Sungguh Allah telah menetapkan hukuman bagi para pezina. Yaitu, pezina yang sama-sama sudah kawin dan pezina yang sama-sama belum kawin. Pezina yang sudah kawin dicambuk seratus kali lalu dirajam dengan batu; pezina yang belum kawin dicambuk seratus kali lau dipenjara satu tahun”

Ba’da sholat jum’at kemarin, tgl. 10.11.2006, saya sengaja makan dipinggiran jalan Sabang (Wahid Hasyim), yang dekat dengan kantor saya bilangan Jl. MH. Thamrin. Bukan karena alasan politik, tapi lebih mengena dengan alasan ekonomi. Maklum perbekalan sudah mulai mengering.

Sekumpulan wanita, berusia antara 20 – 26 tahun (menurut perkiraan saya loch), asyik bercengkerama di samping kanan saya. Mereka begitu riang. Nada bicaranya yang renyah (emangnya hartz chicken), empuk dan penuh canda menandakan bila mereka tidak dalam keadaan bersedih.

Namun kemudian saya agak terkejut ketika salah seorang dari mereka mengatakan bahwa dia siap selingkuh, tapi dengan syarat tertentu (sambil menyebut syarat tersebut). SELINGKUH…??? LOCH APAKAH MEREKA SUDAH MENIKAH….???
Dari dandanannya kemudian saya menyimpulkan bila mereka adalah wanita yang membantu atau bersedia diajak oleh para lelaki/suami untuk melakukan perselingkuhan. Tentunya dengan kompensasi tertentu. Makanya salah satu diantara mereka mengajukan syarat tertentu.



Yah, Jakarta memang kota metropolitan. Segala bentuk, segala rupa dan aneka ragam kehidupan manusia ada dikota ini. Kamuflase kehidupan, fatamorgana kebahagiaan hingga fakta perselingkuhan ada di depan mata. Dan layaknya pengusaha yang mumpuni, wanita-wanita muda tadi mampu mememanfaat celah peluang/opportunity tersebut. kicauan kaum adam yang ingin melakukan perbedaan ekspresi ‘bercinta’ disambut dengan aroma dan warna-warni kumtum bunga dengan kelopak yang lumayan merekah.

Tapi mengapa para wanita itu mengenakan pakaian supermarket/swalayan/spg tertentu. Mungkin itu hanya kamuflase, hanya kepompong ulat sutera.

Masya’ Allah. Asytaghfirullahal’ahim. Ampuni hambaMU ini Yaa Allah. Hamba belum mampu untuk ikut berbuat menahan mereka meskipun secara kasat mata ada didepan hamba Yaa Allah.

Yaa Allah hambaMU ini tidak mampu mengamalkan QULIL HAQQO WALAU KANAA MURRON…

Dalam salah satu riwayat hadits disebutkan bahwa jika perbuatan zina sudah dilakukan secara terang-terangan, maka akan datang suatu penyakit yang tidak ada obatnya.
Apakah keceriaan para wanita yang ikut membantu kaum laki-laki berselingkuh sudah termasuk dalam perbuatan zina secara terang-terangan….???? Apakah penyakit HIV?AIDS termasuk juga dalam penyakit yang disebut Rasulullah tersebut sebagai akibat dari zina secara terang-terangan itu…???

Jika semua itu sudah terjadi, kaum feminis, kaum sekuler dan liberal rame-rame membuat aksi (simpatik???) untuk melindungi masyarakat dari HIV/AIDS dan pembinaan bagi penderita HIV/AIDS yang terus bertambah setiap saat.
Motto penanggulangan HIV/AIDS kemudian adalah (salah satunya) ‘jangan melakukan sex beganti-ganti pasangan’.

Islam mengatakan bila seorang Isteri laksana lahan/sawah bagi suaminya. Sedangkan seorang suami juga laksana lahan/sawah bagi isteri (-istrinya). Maka baik isteri/suami dapat saling bercocok tanam.
Dalam bahasa yang indah, Islam mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menyalurkan hasrat sexual. Sex itu memiliki makna suci, maka harus dipergunakan dengan suci pula. Bukan pelampiasan hawa nafsu. Bukan pula untuk mencari sensasi perbedaan dalam melakukan hubungan suami isteri.
.
Maknanya, secara implicit dikatakan bila belum memiliki suami/isteri, atau belum ada ikatan (akad) syah suami isteri, mbok ya jangan melakukan hubungan suami-isteri dulu. Kan sudah jelas ‘Hubungan Suami-Isteri’, berarti oleh suami kepada isterinya-atau oleh isteri kepada suaminya. Loch, kenapa yang bukan isterinya atau bukan suaminya ngelakuin perbuatan suami-isteri.

Adakah dari mereka itu keluarga kita, saudara-saudara kita, tetangga-tetangga kita, kerabat kita atau teman-teman terdekat/akrab kita…???
“JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGA DARI SIKSA API NERAKA…”
“SETIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN. DAN SETIAP PEMIMPIN AKAN DITANYA TENTANG KEPEMIMPINANNYA”

Wallahu’alam bishowab

salam ukhuwah elha

Baca Selengkapnya......

Minggu, 02 November 2008

PESURUH JUGA MANUSIA…ADA APA??

PESURUH JUGA MANUSIA…PUNYA RASA & HATI…by elha 15.11.2006
.
Seorang pesuruh salah satu perusahaan bercerita (dan sedikit berkeluh kesah).
“Pak….kalau nyuruh begitu yaa” katanya.
Lalu di amenceritakan bila dia disuruh oleh salah satu pegawai. Dia diminta untuk membersihkan sepatu pegawai tersebut, karena ‘sang’ pegawai akan pergi ke hotel
.
.
Kisah yang keluh namun juga menimbulkan tanda Tanya lumayan besar. Demikian sibuk kah ‘sang’ pegawai hingga dia tidak sempat membersihkan sepatunya sendiri…?? Atau demikian burukkah pekerjaan (menolong) membersihkan sepatu pegawai, sehingga seorang pesuruh pun terasa enggan melakukannya…??? atau feodalisme sudah merasuki jiwa si pegawai???


.
Dalam salah satu hadits tentang Budak (hamba sahaya yang belum dimerdekakan), diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda, “Apabila seseorang dibuatkan makanan oleh pelayannya lalu disuguhkannya (yang pelayan tersebut merasakan panas & asapnya), maka hendaklah dia mengajak pelayannya duduk dan makan bersama. Apabila makanannya hanya sedikit, maka berikan sesuap atau dua suap kepada pelayan (pembantu) itu.”
.
Subhanallah. Demikian besar perhatian Rasul kepada orang kecil, hatta seorang budak pun diberikan hak untuk diduduk bersama tuannya, meskipun hanya untuk mencicipi makanan bersama. Apalagi makanan itu dibuat oleh sang budak/pelayan/pembantu, yang dia merasakan bagaimana beratnya, panasnya dan (aroma) nikmat makan yang dibuat/dibelikannya.
.
Lalu mengapa kita sering kali menganggap keberadaan mereka (para wong cilik/pembantu/pelayan) hanya sebagai pesuruh yang memiliki hak hanya untuk disuruh..??? jika haknya saja kita batasi hanya sebagai yang disuruh, bagaimana pula dengan kewajibannya…PASTI DIPASUNG HANYA UNTUK MELAYANI SURUHAN/PERINTAH….
.
Saya yakin kita semua pernah mendengar bagaimana Rasulullah menjahit sendiri pakaian beliau yang sobek, meskipun beliau memiliki budak hasil hibah/pemberian dari sahabat. Tetapi beliau memperlakukan sang budak seperti Anak/putera beliau sendiri. Bahkan dalam riwayat budak tersebut enggan dibebaskan/dimerdekakan, karena budak itu begitu kerasan tinggal dirumah Rasulullah yang sempit dan jarang terdapat makanan.
.
Pesuruh/pelayan/pembantu…(saat ini budak di Indonesia, Insya’ Allah tidak ada), adalah juga manusia. Mereka memiliki indera yang sama dengan kita. Perasaan yang (setidaknya) mirip dengan kita….mereka punya keinginan, mereka punya cita-cita, punya juga ingin diperlakukan layaknya keinginan kita untuk disejahterakan oleh perusahaan.
.
Saya berharap semua keluh kesah sang pekerja (maaf berat sekarang saya mengatakan pesuruh) hanya karena perasaannya yang lagi bete. Atau permintaan dari si pegawai karena waktu yang mendesak atau karena sesuatu dengan asalan logis yang kita sendiri belum tahu.
.
Wallahu’alam bishowab.
.
salam ukhuwah ELHA

Baca Selengkapnya......

Jumat, 15 Agustus 2008

“AKU INGIN MEMBELI WAKTU AYAH??”

“AKU INGIN MEMBELI WAKTU AYAH??”
By : k. elha 12.01.2006 (fr.dadan)

"Aku mau ajak Ayah main ular tangga. 1/2 jam aja. kalau Ayah sibuk & waktu Ayah dihargai 1 jam = Rp. 40.000,-. AKu mau beli waktu ayah. Tapi tabunganku cuma Rp. 15.000,- kurang Rp. 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah.." kata Ikhsan polos sambil menangis
Rudi terdiam dan terpana


---ooOoo---

Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemukadi Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Ikhsan, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Ikhsan memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Ikhsan menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?"

"Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah,enggak. Pengen tahu aja."
"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hariAyah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulanrata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?"

Ikhsan berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar,sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Ikhsan berlari mengikutinya.

"Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong," katanya.
"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Rudi.
Tetapi Ikhsan tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Ikhsan kembali bertanya, "Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?"
"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah."

"Tapi, Ayah..."
Kesabaran Rudi habis.
"Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Ikhsan. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Ikhsan di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Ikhsan didapatinya sedang terisak-isakpelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Ikhsan. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan bisa. Jangankan Rp5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih."
"Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini."

"Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut.
"Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga.Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-,maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-.Makanya aku mau pinjam dari Ayah," kata Ikhsan polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.


Salam ukhuwah elha

Baca Selengkapnya......

Rabu, 21 Mei 2008

WONG MATI SAJA KOK SUSAH

WONG MATI SAJA KOK SUSAH
by elha 16.05.2008

Getaran HP mengganggu konsentrasiku dalam menyalami makna kesuksesan yang sedang dipraktekkan diruang seminar. yach, aku memang sedang mengikuti seminar Quantum ikhlas. Kulihat no miscall di HP. Och ternyata dari isteriku tercinta.

“Ada apa mi?” tanyaku dengan penuh kelembutan dan kemesraan
Aku memang memanggil isteriku dengan sebutan umi, sementara dia memanggil aku dengan sebutan abi. Duh mesrahnya. serasa dunia ini milik berdua. Yang lain kost kalee yach

“Bi, Mama Endut meninggal” jawab isteriku.
“Mama endut Salemba” tanyaku lagi memastikan
“Yach” jawab isteriku
“Nanti kita kesana ya. Bareng ya bi” pinta isteriku
“Ya. setangah jam dari sekarang ya. kita ketemu di Salemba”
Mama Endut adalah Orang tua (ibu) dari Bapak Kost aku dulu. Kebetulan aku memang selalu dekat dengan pemilik dimanapun aku kost. Sehingga aku juga selalu mendapatkan orang tua di sana

.

Jam 12 (dua belas siang) kurang 20 (dua puluh) menit. Panas terik memaksaku untuk mengambil keputusan segaera.
“Aduh sejak pagi tadi aku belum makan neh. Masak aku makan di rumah duka. Belum lagi nanti banyak tugas yang harus aku bantu di rumah Mama Endut (almh)” bisikku dalam hati
“Aku harus makan dulu, charge energi agar dapat banyak membantu keluarga Mama Endut” bisikku kemudian

Tepat Ba’da Zhuhur aku tiba di rumah duka. Ku salami keluarga yang berduka. Kucoba untuk ber-empati kepada mereka, tak kuhiraukan para pelayat dan saudara yang tidak ku kenal. Yang penting aku harus membantu meringakan beban meraka

Kulihat sosok almarhumah dalam posisi terbaring kaku. Seluruh tubuhnya ditutupi kain, kecuali bagian muka. dari situ kulihat jekas seutas senyuman menghiasi wajahnya (wajah almarhumah). Subahnallah. semoga beliau mendapatkan Khusnul Khotimah. Amien

“Kapan Mama meniggal Pa” tanyaku pada salah seroang anaknya
“Tadi sekitar jam 8an. Loch Lukman tahu dari mana?” dia balik bertanya
“Bunda” jawabku singkat
Aku memanggil Bapak Kost dengan sebutan Bapak. sedangkan untuk Ibu kost aku memanggilnya dengan sebutan Bunda. Biar lebih gaya dikit gitu loch

“Begini Man” katanya memulai cerita
“Tadi Mama mo ke belakang terus gak jadi. Lalu pingsan. Terus didudukin. Pas Bapak pegang dah nggak ada.”


Kulihat wajah Pak Andre begitu tenang. Tidak ada guratan sedih yang mendalam yang mendalam diwajahnya. Seakan ingin memberi tahu semua orang bahwa begitulah cara melepas kepergian orang yang dikasihi ‘ibunda tercinta’ dengan ikhlas. Bahwa apa yang dimiliki didunia ini adalah titipan, adalah sementara. Disisi lain suami dari Mama Endut cukup terpukul dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Mungkin karena beliau begitu menciantainya. Mungkin juga teringat kenangan - kenangan yang pernah dialaminya bersama sang isteri. Kini pelaku dan pasangannya dalam menjalani pengalaman hidup dan kenangan-kenangan tersebut telah dipanggil Allah Rabbu Jalil. Sang Pemilik ruh dan jasad setiap insan.

Sementara disudut sana kulihat pula sekumpulan orang sedang sibuk mengurus administrasi kematian almarhumah. Mereka mempersiapkan surat keterangan RT, RW dan kelurahan untuk mendapatkan surat kematian. Demikian untuk juga kebutuhan untuk mengubur jasad almarhumah. Subhanallah. Mereka begitu kompak bergotong rotyong. Mekreka seperti keluarga. Saling membantu dan saling mengasihi.

“Loch, tante, untuk apa beras itu??” tanyaku kepada salah seroang keluarga almarhumah
“Oh ini untuk fidyah” jawabnya singkat

Aku geleng kepala. Kulihat seorang pria seperti menjadi pautan dalam pengaturan dan penjatahan beras dalam kantong – kantong palstik. Ada sekitar 2 karung beras isi 50Kg habis terbagi dalam sekian puluh kantong palastik hitam berisi sekian Kg beras.

“Untuk Fidyah???” tanyaku dalam hati
“Fidyah apa lagi” bathinku

------oooOooo----

Memang ada suatu tradisi yang berkembang di masyarakat kita. Rasa ‘euwuh pakewuh’. Perasaan tidak enak. Perasaan ‘aduh nanti gimana kata orang’, ‘gak enak ama si anu, gak enak ama tetangga, gak enak kalo kalo kalo dan kalo’. Perasaaan gak enak itu terus terbawa sampai peristiwa yang memilukan sekalipun. Peristiwa duka dan peristiwa – peristiwa lain yang membuat sikorban, keluarga korban dan orang –orang disekelilingnya merasa terharu, sedih dan kadang memerlukan airmata untuk menegaskan kesedihannya.

Ketika seseorang meninggal dunia, tentunya eluarga yang ditinggalkan akan mengalami kesedihan. Apalagi anggota kelauarga yang meninggal tersebut sangat disayangi. Perasaan sedih itu kadang dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk ‘mendulang’ sesuatu.

Meskipun tidak terlalu persisi sama, namun itu barangkali yang dialami oleh keluarga Mama Endut. Perasaan tidak enak lebih mereka pikirkan ketimbang bagaimana agar jasad almarhumah dapat segra dirusus, baik secara pisik ataupun administrasi sehingga keluarga dapat dengan tenang mengantarkannnya ke peristirahatan terakhir.

Mungkin akan jauh lebih baik bila keluarga yang lain, tetangga dan handai taulan dari Mama Endut yang menyiapkan dan membantu pengurusan penguburan, administrasi kematian, penjamuan untuk para tamu dan hal-hal lainnya. Biarkan keluarga Mama Endut yang sedang berduka, menjalani prosesi kedukaan, mengurus almarhumah, memandikan, mengkafani, me-yasin-kan (sesuai dengan keyakinannya) dan hal-hal lainnya yang berhubungan langsung dengan jasad dan bathin almarhumah. Tidak perlu direcoki dengan masalah makanan, minuman, uang ini, uang itu, beras fidyah, sumbangan anu, sumbangan anu yang membuat meraka lebih terbebani.

Bila tradisi seperti ini, tradisi ewuh pakewuh, tradisi tidak enak-an, tradisi memikirkan orang lain yang memang tidak perlu dipikirkan, terus berlanjut dikhawatirkan akan memiliki dampak yang kurang baik bagi perkembangan silaturahim kedepan. Misalnya, jika keluarga si mayit masih harus memikirkan makanan, minuman, sumbangan anu, amplop anu, dll, padahal mereka masih diselimuti duka dan jasad almarhum/almarhumah belum terurus.

Ada satu kisah. ketika ada anggota keluarganya yang meninggal dunia, keluarga korban langsung menyiapkan sesuatu untuk tetangga yang berdatangan. ada makanan, minuman, makan siang, dll. Demikian juga saat takziah. Mereka begitu sigap menyiapkan nasi kotak, kue-kue, dll untuk para tamu yang datang. Beberapa hari kemudian baru terungkap kalau keluarga tersebut ternyata berhutuang banyak untuk hal tersebut.

Berhutang. yach itu adalah usaha yang paling tepat untuk memenuhi keinginannya menjamu keluarga, meskioun kondisi keuangan tidak mendukung. Berhutang dilakukan karaena meraeka (keluarga korban) merasa tidak memiliki apa-apa untuk disajikan. Mereka merasa tidak enak dan ewuh pakewuh teradap tamu, tetangga dan keluarga lainnya. Mereka lebih memikirkan orang yang masih hidup (yang sebenarnya tidak terlalu dipikirkan ketimbang mengurus si mayit). Akibatnya jalan Hutang yang dipilih. Lalu siapa yang harus disalahkan???

Bagaimana dengan Fidyah? Bagaimana dengan beras yang dibagikan kepada para tertagga untunk dan atas nama almarhum/mah. Itu juga tradisi. konon kabarya, ada sebagian masyarakat yang mengganggap bahwa untuk meluruskan dan membantu almarhumah dalam menghadpi alam kubur, diperlukan fidyah untuk memurnikan nilai ibadahnya. mungkin masih bolong-bolong,. kata mereka.

Rasulullah SAW dalam sebuah haditnys bersabda,
Idz-dzaamatabnu Adama inqothoa illa min tsalastin. shodawotin zariyatin. au-ilmin yantafulah awaladun sholihin yad’ulahu.
sesungguhnya ketika Anak Adam meninggal dunia, maka putus suduah segala amal ibdahnya kecuali tiga perkara 1. amal jariah 2. ilmu yang bermanfaat 3. anak yang sholeh yang selalu mendoakannya.

Dalam nash yg berbeda (baik asbab maupun tujuannya) Allah berfirman,
Yaa Ayyuhannas. Ittaqullah haqotuqotii. Walaa tamutunna illa waantum muslimuun.
Wahaai Manusia. bertaqwalah dengan sebenar – benar taqwa. dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan ber-Islam (berserah diri).

Artinya apa?
Bahwa tugas manusia adalah beribadah kepada Allah SWT dalam berbagai aspek kehidupan. Ibadah dalam pengertian yang universal. bukan hanya sekedar rutinitas ritual. (Ad-Dzariat : 56). Jika tugas kemanusiaan selesai dilaksanakan, maka selesailah sudah. Ketika Allah memanggil melalui Malaikat Izraoil, secara phisik dan ruhani dia sudah menyelesaikan tugas-tugasnya. Jasad yang ditinggalkan di dunia ini menjadi kewajiban (Kifayah) kaum muslimin lainnya. Keluarganya mengurus jenazahnya. Memandikan, mengkafani, men-sholatkan dan menguburkan. Lebih afdhol bila yang melakukan semua itu adalah keluarga (anak, isteri/suami dan cucu-cucunya). Namun karena keterbatasn tenaga dan waktu, maka sangat dianjurkan kaum muslimin lainnya, terutama yang terdekat (tetangga) untuk memmbantu meringankan bebannya.

Dalam syariat tersebut tidak sedikitpun disebut kata-kata menjamu tamu takziah dengan hidangan, makanan, minuman dan beras/makanan pokok. Tidak juga kata memberikan fidyah. Yang akan membantu si mayit dalam menghadap Allah hanya Amal perbuatannya selama di dunia, ilmunya yang pernah disebarluaskan dan berguna bagi masyarakt dan anak-anak yang telah dididiknya sehingga menjadi anak yang sholeh. Karena Islam tidak mengenal dosa warisan, tidak mengnal dosa ‘gadai’, maka kewajiban ritual si mayit yang telah lalu tidak perlu ditebus dengan fidyah.

Tanpa bermaksud menggurui, alangkah lebih baik bila tradisi ......................tersebut diubah formatnya menjadi :
1. Takziah adalah sunnah. Sementara tahlilan (1hari, 3hari, 7 hari) adalah tradisi. Maka Takziah tetap dilaksanakan. Sementara tradisi tahlilan silakan diteruskan jika memang diyakini sebagai suatu ibadah, dengan catatan keluarga korban tidak perlu ‘menggelembungkan ewuh pakewuh’. tidak perlu memaksakan diri untuk menyediakan hidangan, makanan dan minuman. jug amplop-amplop.
2. Jika memungkinkan, seluruh kebutuhan biaya penguburan, surat administrasi kematian dan kebutuhan phisik untuk tamu takziah dan tahlil ditanggung oleh tetangga dan atau saudara sekitar keluarga duka. Kecuali jika memang keluarga duka adalah orang ber-punya yang dapat melakukan banyak hal dengan kemampuannya (hartanya, kekuasannya, dll)

Altrnatif penaggulangan :
1. Setiap lingkungan, RT/RW ataupun karanbg taruna membentuk tim/lembaga/paguyuban urusan kematian. mencari dana (baik internal lingkuangan atupun donatur) dan aktiftas pengurusan kematianlainnya.
2. Tim/peguyuban/lembaga urusan kematian tersebut kemudian bekerja sama dengan remaja/pemuda masjid.musholla/pengajian setempat untuk mengurusi masalah yang berhubungan dengan ibdah ritual/keyakinan seperti prosesi hak si mayit untuk di mandikan, dikfani, disholati, dikuburkan dan (jika memang diyakini) tahlil

3. Jika semua itu dilakukan dengan baik dan saling melengkapi, Insya Allah, tidak ada lagi kelurga duka melkukan pinjaman-hutang hanya untuk rasa tidak enak ‘ewuh pakewuh’. jangan sampai ada lagi keluaga duka, mengabaikan si mayit karena tidak mampu/malu mengundag tetangga untuk takziah dan mengurusi hak si mayit. dan jangan ada lagi keluarga duka mencari beras dengan mengabaikna si mayit hanya untuk berfidyah.

Tulisan ini tidak sedikitpun bermaksud untuk menggurui, namun lebih sekedar untuk bebagi ucapan, diskusi dan saling taushiyah dengan kebenaran. wallahu’alam.

salam ukuwah elha
16.05.2008

Baca Selengkapnya......

Kamis, 08 Mei 2008

SIANG ITU DI PANTI PIJAT

SIANG ITU DI PANTI PIJAT
By elha 24.04.2008

--Artikel ini merupakan kesimpulan dari kisah nyata seorang wanita yang mengaku (pernah?) bekerja di Panti Pijat . Nama dan redaksi percakapan telah mengalami perubahan—

Senyum maniesnya terus mengembang di areal wajahnya yang memang tampak cantik. Deretan gigi putihnya tersusun rapih dengan satu gigi berwarna kuning kecoklatan tampak lebih menyembul diantara yang lain. Namun justru itu menambah keasrian dan kemanisan wajahnya. Sebut saja namanya Rina (maaf ini nama samaran)

“Yah namanya juga usaha mas” jawabnya ketika ditanya alasan yang melatarbelakangi dirinya bekerja sebagai pramu pijat (bahasa halus dari wanita pemijat di sebuah panti pijat tradisional)

“Abis mau usaha apa lagi. Cari kerjaan susah. Sementara kita kan harus mengurusi anak. Sekolah, makan, jajan. Belum buat bayar kontrakan” sambungnya



“Loch emang suami Mba kemana” tanyaku singkat
“Yach....” dia kemudian menarik nafas panjang. Lalu diam sejenak
“Saya udah cerai mas. Dua tahun lalu....” katanya kemudian
“Saya capek. Dia udah jarang ngasih saya uang belanja. Jarang pulang. Tadinya saya gak percaya kalo dia (mantan suaminya-pen) main perempuan lagi. Tapi waktu saya pergoki dia sama wanita lain, yah udah saya minta cerai. Sekarang dia tinggal di Bekasi. Anak saya yang ngurus” lanjutnya

Butiran air bening mengalir dari kelopak matanya. Desahan nafasnya tertahan dan tersendat. Mungkin dia belum siap mengingat peristiwa yang pernah dialaminya. Sebuah peristiwa yang mungkin menjadi sebuah lembaran hitam dan sejarah kelam hidupnya.

Aku turut terdiam. Ku biarkan Rina terbuai dalam lamunannya. Ku biarkan dia memalingkan wajahnya yang mulai basah oleh linangan air mata. Aku berupaya untuk ber-empati. Namun aku tak dapat membayangkan apa yang sesungguhnya terjadi.

“Sakit hati saya mas. Dulu sebelum menikah dia sayang banget sama saya. Baik, perhatian. Tapi setelah punya anak, dia mulai kelihatan berbeda. Awalnya saya coba memaklumi. Tapi lama kelamaan kesabaran saya habis...”

“Coba deh mas bayangin. Dia enggak kerja. Gak ada keinginan buat bantu saya cari nafkah. Dia juga sering marah mas...”

“Yang bikin saya sakit hati, dia main perempuan lagi....Padahal saya yang ngerasain hidup sudah bareng, sama-sama bangun keluarga. Ternyata dia.....” kemudian Rina terdiam tak mampu melanjutkan kalimatnya. Kembali dia menarik nafas panjang.

“Lalu saya minta dia memilih, saya atau perempuan itu.....Dia pilih perempuan itu mas...” sambungnya lirih.

“Maaf Mba” selah ku.
Aku mencoba untuk mengalihkan perhatiannya agar tak larut dalam kesedihan

“Kalo mba kerja, lalu anak mba ama siapa?” tanyaku kemudian
“Anak saya titipkan sama orang tua. Kebetulan Ibu saya juga tinggal gak jauh dari rumah. Anak saya masih kecil mas, masih SD. Biarin deh dia sekolah yang tinggi biar gak kayak ibunya” jawabnya

“Keluarga mba tahu gak kalo mba kerja beginian (dipanti pijat-pen)”
“Enggak mas. Jangan sampe tahu. Saya bilangnya kerja di toko” jawabnya malu sambil menundukkan kepala
“Pernah gak ada tetangga yang mampir ke sini (panti pijat tsb-pen)”
“Pernah. Tapi saya sih cuek aja”

“Enggak takut neh dia cerita ama tetangga lainnya” pancingku
“Enggak mas. Kalo dia cerita macam-macam, saya akan beberkan kalo dia main ke panti pijat. Kalo saya kan di sini kerja buat anak. Lah kalo dia apa ?….” jawabnya dengan nada suara yang meninggi

“Mba, maaf loch, sebenarnya saya gak yakin Suami Mba ninggalin Mba. Soalnya Mba sosok wanita yang nyaris sempurna. Wajah, gaya bicara dan tanggung jawab Mba cukup meyakinkan. Pasti mantan suami Mba nyesel ninggalin Mba” kataku mengibur
(kulihat Rina tersenyum malu. Mungkin hatinya sumringah mendapat pujian seperti itu)

“Emang Mba enggak pengen nikah lagi. Kasian juga kan anak. Dia juga pengen punya Bapak. Anak pengen cerita ke temennya kalo dia baru aja jalan-jalan sama Bapak dan Ibunya. Mba juga kan pasti butuh perhatian, butuh pendamping dalam menjalani hidup ini. Butuh teman buat diskusi. Butuh penghibur disaat lelah, capek” tanyaku

“Pengen siih mas. Tapi siapa yang mau sama saya, tukang pijat. Lagi pula saya gak mau disakitin lagi sama laki-laki” jawabnya.

---oooOooo---

Hari berganti hari, waktu berganti waktu. Rina, gadis ayu yang (konon kabarnya) terpaksa menjadi pramu pijat, masih tetap menghiasi hari-harinya di Panti Pijat di salah satu kawasan Jakarta Pusat.

Ya, Panti Pijat dalam satu dekade terakhir memang menjadi fenomena tersendiri dalam pergumulan kota metroplis, kota-kota besar. Dengan dalih menunjang pariwisata nasional, panti-panti pijat bagaikan jamur di musim hujan. Tumbuh subur. Panti Pijat Tradisional, Panti Pijat Anu, Panti Pijat Anu juga, Panti Pijat Anu lagi, begitu merk yang dipasang. Ada memang yang benar-benar pijat kebugaran, pijat kesehatan, namun tak sedikit yang konon (berdasarkan berita di berbagai media) hanyalah kamuflase dari transaksi sex terselubung.

Lalu bagaimana dengan Rina yang bekerja sebagai pramu pijat. Apakah dia juga terlibat dalam transaksi sex bebas tersebut? Bila ya, apakah karena itu pula Rina bertahan, karena itu adalah salah satu cara mendapatkan uang dengan mudah? Ataukah karena itu pula Rina sudah tidak berminat lagi (tidak bersemangat lagi) mencari seorang pendamping hidupnya, yg juga akan menjadi Bapak bagi anaknya? Wallahu’alam

---oooOooo---

Kita patut prihatin dan ber-empati kepada Rina dan Rina-Rina lainnya. Dia hanyalah korban dari sebuah masalah kehidupan. Korban dari sebuah episode masalah yang tidak mampu dia lewati. Dia harus berjibaku dengan waktu, persaingan dan perasaan untuk menghidupi keluarganya, sekolah anaknya. Kontrakan. Dan ini yang paling berat ‘malu dan juga rasa gengsi’ dengan orang-orang dikampungnya. Maklum orang-orang dikampung tahunya Jakarta adalah kota besar, kota uang, kota yang penuh dengan impian. Orang Jakarta pasti kaya, pasti sukses, pasti (maaf, ini dia yang sering menjadi masalah bagi pemerintah) pulang bawa uang banyak.

Namun apapun alasannya, sex bebas, yang di ramu dalam bentuk bagaimanapun bukan lah solusi. Benar uang dengan mudah dapat diperoleh? Benar Rina menikmati ‘perannya’? Tapi tidak demikian dengan hatinya, nuraninya. Hatinya tentu sakit merasakan bagaimana tubuhnya hanya dihargai sekian rupiah saja oleh lelaki hidung belang. Tubuhnya hanya menjadi ‘Bamper’ pemuas nafsu birahi banyak orang.

Rina juga tahu betapa pekerjaan sangat riskan. Resiko penyakit kelamin, HIV, AIDS. Resiko malu dengan tetangga, kerabat dan keluarga. Bahkan Resiko masa depan, karena dengan bekerja sebagai pramu pijat berarti Rina telah ‘menggadaikan’ hidupnya, sebab akan sulit mendapatkan laki-laki yang berminat menjadi pendamping.

Sex bebas, perzinahan adalah perbuatan dosa besar yang sangat buruk. Menurut salah satu Buku Fikih Kontemporer, Zinah merupakan kejahatan kemanusiaan terburuk. MENGAPA? Karena perzinahan memdawa dampak yang luar biasa seperti memutus mata rantai kekeluargaan, sulit menentukan keturunan, nasab, sulit menentukan hak waris, pembelaan atas masalah keluarga dan kebenaran di depan Qodi (Hakim agama). Karena itu, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Israa ayat 32 :

“Walaa Takrobuz-zina innahuu kaa fahisyah, wasaa-a sabiilaa”
Dan jangan kalian mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.

Perzinahan yang paling buruk adalah zinah yang dilakukan kepada mahram/mihram (saudara perempuan, orang tua, mertua, dan keluarga lainnya), orang sudah menikah dan terhadap isteri tetangga.

PERTANYAAN SEPELE YANG HINGGAP ADALAH : APAKAH SAAT INI SUDAH ADA ORANG YANG MEMPERKOSA ORANGTUANYA, NENEKNYA, TETANGGANYA, ORANG MENIKAH YANG BERZINAH ???
JAWABANNYA : SANGAT SANGAT SANGAT BERJIBUN AMAT.

--oooOooo—

Apa yang dilakukan Rina bukan lagi mendekati, tapi sudah menceburkan diri dalam Dzina. Membasahi dan terus membasahi tubuhnya dengan dzina. Allah sudah memperingatkan agar manusia menghindari jalan yang buruk. Dapat kita bayangkan jalan yang buruk, penuh lubang, debu, lumpur dan rintangan lainnya. Sulit dilalui (untuk meraih kebahagiaan hakiki). Dan Rina tidak menghindari jalan buruk itu, bahkan dia terus menelusuri jalan yang buruk tersebut. Dan semakin jauh. Semakin terpuruk.

Rasulullah mengingatkan, bahwa bila perzinahan sudah meraja lela, maka akan datang suatu penyakit yang tidak ada obatnya.
HIV/AIDS adalah penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan serumnya. Demikian juga dengan penyakit EBOLA yang berasal dari Afrika. Semua penyakit ini berasal dari perilaku sex bebas. Dan ini bukti yang sangat nyata kebenaran akan peringatan Allah dan Rasulnya.

Mungkin Rina tidak mengetahui hal ini. Atau mungkin malu untuk kembali ke tengah masyarakat dengan kepala tegak. Atau bahkan mungkin ini untuk melampiaskan kekecewaannya kepada kaum lelaki. Namun apapun alasan Rina untuk terus berada dalam pusara prostitusi bukanlah pilihan tepat untuknya, anaknya, keluarganya dan masa depannya.

Sulit memang. Namun harus dilakukan. Disini perlu peran dakwah bil hal yang baik untuk melepaskan Rina dari keterkungkungan prostitusi tersebut. Para wanita/akhwat, dai wanita dan aktifias wanita lainnya harus saling berjabat tangan, pererat barisan untuk membantu menyelamatkan Ribuan Rina yang (karena keterpaksaannya) harus bekerja dalam dunia hitam.

Mungkin ada diantara kita (Pria/wanita) yang jijik dengan mereka, pelaku sex bebas. Tapi bukankah banyak juga dari mereka yang melakukannya karena keterpaksaan, karena kebutuhan keuangan, karena akibat kekerasan rumah tangga, karena perceraian, karena pernah disakiti oleh pasangannya, dan lainnya.

Mereka adalah obyek dakwah para akhwat. Bukankah kita juga banyak mendengar bahwa puluhan, ratusan bahkan ribuan gadis desa yang lugu harus menjadi pramu pijat dan pramu sex di kota-kota besar karena ulah ‘oknum’ yang mengaku akan mempekerjakan di restoran, toko, sebagai PRT dan lainnya. Kita mungkin masih ingat kasus dara (gadis) Jawa Barat yang di sekap di Karimun untuk dipekerjakan di kawasan malam di Luar Negeri dan daerah lainnya.

Tanpa peran serta kita semua, akan banyak Rina-Rina lain dan (mungkin) ribuan gadis lugu lainnya yang akan terus membanjiri dunia hitam. Dunia hitam selalu menghadirkan kekerasan, perselingkuhan, narkoba, minuman keras dan aneka jenis tindakan kriminal dan aktifitas negatif lainnya. Kita bisa mencegahnya atau setidaknya menguranginya dengan jalan menyelamatkan para wanita yang akan, sedang dan telah ‘terjebak’ di dunia itu. Bila seluruh wanita telah diselamatkan, dunia hitam akan dengan sendirinya memudar. Karena ramainya dunia malam adalah karena suara wanita.

Wanita adalah tiang negara. Bila baik wanita (dinegara itu) maka akan baguslah negara, namun bila rusak (akhlak) wanaitanya maka akan rusak negara ybs.

Salam ukhuwah elha
Dzakarta, 24.04.2008

Baca Selengkapnya......